Pengalaman Sidang TILANG (bukTI peLANGgaran)

ilustrasi slip merah

ilustrasi slip merah

“Saya minta slip biru Pa” “Saya lihat di Internet, kalo ditilang lebih baik slip Biru, karena uang pasti untuk negara” Begitulah tanggapan beberapa orang saat diberhentikan oleh Polisi dan ditilang. Namun apakah yang dilakukan oleh orang – orang kebanyakan dengan meminta slip biru itu benar? Tentu saja benar, lantas berarti yang minta slip merah itu salah dong? Tidak juga. Sama saja benar.

19 Desember 2015 lalu, saya ditilang karena saya mengendarai motor dan naik “flyover” di Cempaka Putih – Jakarta. Saya naik sana karena benar – benar tidak melihat ada rambu – rambu yang mengatakan bahwa motor lewat situ. Begitu turun, Polisi sudah ramai menanti kami para pelanggar. Semua motor dengan latar belakang apapun diberhentikan, termasuk saya. Terjadilah percakapan seperti ini :
Lapik : Ada apa ini Pa?
Polisi : Saya mau lihat surat – suratnya
– lantas saya berikan kelengkapan surat –
Polisi : Anda ga boleh lewat atas, motor harus lewat bawah. Ada rambunya
Lapik : Hah, mana Pa? rasanya ga ada, saya ga liat

Polisi ga banyak bicara, dia sudah menulis surat tilang slip merah

Polisi : Anda harus datang ke persidangan tanggal 8 Januari nanti, di gedung baru Jalan Bungur Raya.
Saya : Oh begitu? Kenapa harus slip merah.
Dia sangat berbaik hati sekali menjelaskan

Polisi : Begini Pa, seperti yang tertera di sini, saya bisa saja berikan slip biru, tapi anda harus mengerti dahulu fungsinya slip biru. (Dia nunjukkin penjelasannya) Slip biru diberikan, jika anda tidak datang ke persidangan dan diwakilkan, dan anda harus membayar terlebih dahulu denda maksimal. Anda melanggar pasal 287, denda maksimalnya adalah 500,000. Anda bisa cek di internet apakah saya bohong atau tidak untuk denda maksimalnya. Setelah anda membayar, baru ikut proses selanjutnya untuk pengambilan kembaliannyalah istilahnya dan mengambil berkas anda, saya tahu sodara ini mahasiswa, jadi saya kasi slip merah saja, lebih ringan dan tidak ribet, langkahnya anda hanya perlu datang ke pengadilan, ikut persidangan, dapat putusan denda berapa biasanya yang segini (dia menunjukkan kolom 100,000), di sana anda langsung dapat ambil SIM anda, daripada anda harus keluar dulu uang 500,000, setelah disidangkan baru anda dapat ambil kembalian, itupun kalo dapet yang segini juga (sambil nunjuk yang 100,000 lagi), lebih ribet. Urusan uang, anda jangan khawatir semuanya sama – sama masuk kas negara. Memang di internet banyak yang bilang harusnya slip biru saja, jangan slip merah. Kesannya biru yang legal, padahal sama saja, hanya beda proses, merah anda maju sendiri, biru anda diwakilkan oleh saya. Uang yah sama – sama masuk negara.

Karena penjelasannya yang cukup jelas dan saya baca sendiri, ya sudah akhirnya saya terima saja dech, ga pernah saya ditilang di kota orang pula. Namun, saya sedikit penasaran, kalo memang denda saya cuma 100,000 kenapa dia ga lingkarin yang segitu dan dibiarkan kosong, akhirnya saya datengin kantor dia. Di kantornya, saya tanya ke yang jaga di sana, “Pa kalo saya ditilang begini, tahu dendanya berapa itu gimana?”

Alih – alih menjawab pertanyaan saya, dia malah bilang, “Begini, hari ini hari Sabtu, tutup itu lantas, Ade senin dateng aja ke sini, ke sana tuh (nunjuk kantor lantas) dan bisa ambil berkasnya di sana”. Shock saya, karena bingung jadi ini prosesnya gimana sich? Saya tanya, “Lha, katanya ke pengadilan tapi kok bisa ambil di sini?” Akhirnya dapatlah bocoran bahwa bisa datang ke sana dan ke Pa B*** untuk ambil ke sana, paling bayar sekitar 100 atau 150 ribu, dia seorang polisi juga, mungkin perwiranya, kata penduduk sekitar, dia itu kanit. (Mohon maaf, saya tidak sebut dia oknum, lha memang dia polisi juga kok, kenapa harus disebut oknum? Supaya nama institusi Polisi bersih karena ga ada polisi yang salah, karena yang salah hanya oknum? Ga bisa gitu bos, sampe kapan kita selalu berpikir begitu, kalo terus berpikir gitu, yaah di seluruh institusi ga ada orang brengkesnya, karena yang brengkes itu oknum, jadi ga perlu bersih – bersihin institusi. Tapi kalo anda tetep mau bilang itu oknum, yaa monggo, aku ra popo). Dari situ saya dapat informasi tentang cara itu. Saya sempat berpikir, yah pakai cara itu saja, toh dalam 2 atau 3 hari setelah saya ditilang, saya bisa ke sana.

Nasib sial pun menimpa Pa B*** itu (Kalo berani nyebut itu Polisi, kenapa namanya disensor? Karena saya ga tahu pasti bahwa orang itu namanya itu. Saya hanya tahu dari orang lain dan ga pernah bertemu dengan dia, daripada dituduh pencemaran nama baik), saya pada hari Senin sampai Rabunya itu sibuk sekali, jadi ga bisa ninggalin kegiatan saya untuk bertemu Pa B*** itu, yaah berarti saya akan sidang kalau gitu.

Tiba hari H tanggal 8 Januari 2016, sesuai jam yang tertera sih jam 8 harus sudah tiba, tapi dasar saya ga pernah nurut apa kata orang, jadi saya telat datang. Saya telat karena saya benar – benar cross check lagi kesalahan saya, terus pelajari lagi pasal dan ayatnya waktu pagi – pagi tadi dan memastikan segalanya termasuk segala kemungkinan jumlah denda. Saya pelajari jika pasal yang dikenakan ke saya ada yang kena 49,000 ada juga yang 200,000 bahkan ada juga yang bilang kena 250,000 termasuk yang denda maksimal. Setelah tahu informasinya, barulah saya berangkat jam 8 itu. Usahakan datang ke sana pakai pakaian yang sopan dan formal, supaya membawa kesan elegan untuk anda.

Saya tadi datang ke sana hanya pakai Kemeja safari putih (ala Pa Jokowi) dan celana hitam, pakai sepatu pantovel. Gedung pengadilannya di Jalan Bungur, dan sudah penuh sekali antrian yang menunggu di sana. Seperti biasa saya datang dengan gaya saya, entah kenapa orang pada lihatin saya, lalu saya tanya ke petugas yang lagi dikerumunin orang, “Dimana sidang tilang?” dia jawab, “anda yang disita apa, Pa?” saya jawab, “SIM C”, “Ooh silahkan ke lantai 3” katanya. Saya jalan ke atas, dan kerumunan banyak itu pada lari mendahului saya ke atas, mau marah karena didahului, tapi saya pikir ah sama – sama disidang juga entarnya, ngapain dulu – duluan, udah bawa buku bacaan juga, memang sudah mempersiapkan untuk berlama – lama di sana.

Saat hampir sampai lantai 3, saya baru sadar, saya tinggal sendiri alias paling akhir, pikirku, “celaka, bisa sore saya” Tapi ga kehabisan akal, saya pun tetap tenang dan nyamperin ke petugas yang mau masuk ke ruang tunggu, yang mendahului saya udah ngerumun di sana, di depan ruang sidang, “Mas, saya mau sidang nich, apa prosedurnya?” Dia bilang, “nah kebetulan, ini kan gedung baru, jadi sistemnya beda dari yang dulu, sebentar Mas” dia pun berteriak dari deket pintu ruang tunggu dan saya berdiri di belakangnya. “Yang mau sidang SIM C, ruang sidangnya bukan di situ, ambil nomor antrian dulu di situ (nunjuk ke meja di selasar luar ruang tunggu) sesuai dugaan saya, ga perlu buru – buru dan kejar – kejaran wong gedungnya masih baru, pasti sistem dan lain – lain pun belum terbentuk sempurna, bisa berubah – ubah. Akhirnya saya pun lari, ternyata di luar ruang tunggu pun udah ada yang nongkrong, lumayan langsung antri, dapet nomor 16.

Setelah dapat nomor, anda akan diminta duduk lagi di ruang tunggu itu. Setelah banyak yang dapat, petugas pun ada yang teriak, “Nomor urut 1 sampai 50, masuk ruang sidang” yaah udah saya pun masuk. Di ruang sidang, saya lihat ada seorang jaksa masuk duluan, lalu 30 menit kemudian disusul Hakim dan Paniteranya beserta petugas pembaca nomor urut.

Keuntungan ga dapat nomor awal, anda bisa memperhatikan cara si hakim bertindak dan berbicara. Jadi jika anda butuh, anda bisa cari cara untuk melobynya. Tiba giliran saya, saya pun masuk ke arena sidang. Berikut kurang lebih bincang – bincang kami di persidangan tadi (Jujur lebih deg – degan sidang sarjana daripada sidang tadi).

Hakim : Sodara Lapik, apa salah anda?
Lapik : Saya salah jalur Pa di Cempaka Putih, katanya Motor tidak boleh lewat atas, saya lewat atas
Hakim : Jadi anda sadar bahwa anda salah?
Lapik : Yah sudah pasti salah, Yang Mulia, wong saya ditilang
Hakim : Aah, kalo anda merasa ga salah, kita panggil nanti polisinya, ga salah kok ditilang
Lapik : Waah, kesueeun Pa (Kelamaan Pa) wis pasti salah kok, saya tidak lihat ada tulisannya, yaah namanya lagi nyetir, mana baca begituan, kecuali ada gambar motor dicoret saya trabas, naah tololnya saya itu
Hakim : Aahh, pintar anda. Jadi anda ngakuin salah Yah?! (Dengan nada tegas, membalas tegasnya jawaban saya)
Lapik : Ya, Yang Mulia
Hakim : Kalo begitu anda bersalah dan mengakuinya, membayar denda 100,000.

Sudah kelar, saya kasih 100,000 ke Jaksa, dia berikan berkas SIM saya dan lampiran slip biru, setelah saya periksa dan benar itu SIM saya, slip biru pun diberikan kembali ke jaksa itu. (Ga selalu Jaksa kasih juga sekalian slip birunya, kadang dia lepas juga, saya perhatikan sich begitu, karena selain saya, tidak ada yang sempet liat slip biru, tapi emang saya langsung ambil dari tumpukan sich, ga kaya yang lain diambilin sama Jaksanya).

So, saran saya buat handai taulan, saudara – saudari serta anda – andi, jika kena tilang, dan diberikan slip merah, tidak perlu keras kepala minta slip biru karena dapet isu di internet (Kalo ga salah sich yang supir taksi ngotot – ngotot minta slip biru, gara – gara itu, stigma masyarakat kalo ditilang harus slip biru). Kenapa? Selain anda harus keluar uang dulu besar sekali yaitu denda maksimal dan harus bayar langsung ke BRI, anda juga akan merepotkan para petugas yang harus wakilin anda, padahal ga ada salah juga sich kalo anda datang ke persidangan.

Saya coba jelaskan kembali slip merah dan biru berdasarkan pengalaman saya kemarin. Slip merah dan biru itu ga ada hubungannya dengan anda terima kesalahan atau tidak, slip merah dan biru itu hanya indikator fungsi saja. Jika anda dapat slip merah, anda berarti bersedia untuk datang ke pengadilan dan membayar denda sesuai keputusan hakim. Urusan berapa nominalnya, bisa beda – beda, yang jelas jika anda langgar pasal 28 ayat 1 atau 2, ga mungkin dendanya di atas 500 ribu. Pasti di bawah, tergantung keputusan hakim (Pasti deg – degan sich, takutnya tiba – tiba denda maksimal aja), berdasarkan pengalaman saya yaah bayarnya cuma 100,000 saja, tidak ribet dan tidak perlu pakai calo, kenapa tidak boleh pakai calo? Selain melanggar hukum, kalau saya sich mikirnya, “lha wong saya dateng sini luangin waktu buat sidang kok dia orang malah mau ambil kesempatan saya, kapan lagi coba sidang saya ikutan sidang tilang” prinsip saya sich begitu, anda harus pikirkan bahwa anda rela datang ke sana meluangkan waktu itu untuk dateng dan bertemu hakim, jangan sampe kesempatan itu anda berikan ke calo, dijamin cepat? Belum tahu juga, tapi yang jelas lebih mahal, so nikmatin aja seninya ikut sidang tilang, minimal sambil menunggu anda bisa berkenalan dengan orang baru dan dapat teman. Untuk nominal sendiri, anda jangan terlalu yakin bakal disuruh bayar 100 ribu saja kalau pelanggaran anda melintas di busway, kenapa? Tadi saya lihat, ada yang lewat busway dan dendanya 250 ribu, gede? iya. Kok bisa itu mahal banget, dan hakim kok ga ngasih potongan besar kaya pasal lain. Yaah anda ngertilha Gubernur DKI Jakarta sekarang kaya gimana? Galak gitu, dia kan ga mau ada yang lewat busway dia, kalo ada yang begitu, dia maunya itu pelanggar dihukum berat. Naah kalo ada yang sampe dihukum ringan, tentu tidak diharapkan sampe Ahok marah – marah ke Hakim, jadi bagi anda pelanggar busway, yaah nasib, anda pasti kena denda besar, termasuk pelanggaran parkir dan kendaraan anda diangkut.

Saran lainnya, khusus jika anda ke pengadilan jalan Bungur Raya itu dalam waktu dekat – dekat ini, bawa uang 100 ribuan saja, jangan dalam pecahan 50 ribuan, kenapa? Ini sebenarnya trik saya, saya tadi ditagih parkir, saya tunjukkin, “Ada kembalian?” tukang parkir bilang, “ya udah lewat aja, Bang” sedangkan yang di belakang saya, nyoba trik saya, kluarin 50 ribuan, ternyata dia ada kembalian. Tapi ga disarankan sekali, minimal jika bayar parkir, anda ngasih amal ke mereka lah, manatau uang itu buat mereka bukan buat gedung pengadilan.

Begitulah kisah saya kena tilang pertama kali di DKI Jakarta pula. Jadilah pengendara yang taat aturan supaya ga nyumbang ke negara lewat denda. Jika ditilang, terima saja surat tilangnya, ga usah damai – damaian. Jika polisi minta damai, jangan diterima, kenapa? Karena anda ga lagi perang sama dia.

Semoga bermanfaat walau tidak sepakat

Advertisements
Posted in Pengalaman | Leave a comment

Pekerja Tiongkok Datang, Pemerintah Jahat!

pekerja-china

Gambar hanya ilustrasi

Baru-baru ini, sering kita lihat ada banyak kabar tentang pemerintah membuka ‘keran’ supaya para pekerja dari negeri Tiongkok datang. Tidak sedikit juga tanggapan yang muncul, dari tanggapan bahwa Presiden Indonesia memang antek asing lah, atau Presiden Indonesia boneka dari Tiongkoklah, bahkan ada yang lebih provokasi lagi bahwa Pemerintah sudah jahat sekali karena tidak percaya dengan tenaga kerja dalam negeri. Sebenarnya apakah semua tanggapan tadi itu benar? Saya tidak tahu. Namun saya ingin berbagi sedikit.

Ada yang bilang bahwa pemerintah jahat karena sampai sebegitunya ga percayanya kah pemerintah sampai ‘impor’ tenaga asing dari Tiongkok? Saya bingung dengan pertanyaan seperti itu, kenapa harus berpikir seperti itu? Kenapa tidak berpikir bahwa pemerintah baik sekali karena dia percaya sekali bahwa tenaga kerja dalam negeri ini sangat hebat, dan saking hebatnya pemerintah biarkan ada persaingan biar negara asal tenaga kerja asing itu rasain bahwa tenaga kerja mereka kalah bersaing dengan tenaga kerja kita? Saya sendiri berpendapat begitu. Memprotes pemerintah dan melarangnya meng’impor’ tenaga kerja asing (TKA) ke Indonesia hanya karena sirik atau takut kesaingan, tindakan demikian selain bermental lemah tapi juga licik, karena tidak terima kalah, maka melarang orang lain menang. Sadar ataupun tidak, bagi mereka atau mungkin anda yang merasa hal yang sama dan berpendapat bahwa pemerintah sebaiknya melarang TKA masuk, mereka adalah orang yang kalah sebelum tempur, kenapa begitu? Karena bersaing saja belum, tapi sudah pentang bacot ketakutan karena takut tersaingi, bagi para aktivis yang ikut menolak, sudah pentang bacot dengan mengatakan ‘Jangan menyengsarakan rakyat kecil, kasihan mereka kehilangan pekerjaan’.

Sempat berdiskusi dengan teman, dia mengatakan ‘kenapa sampai impor segala sih? Padahal di Indonesia aja banyak yang di-PHK karena krisis, eehh ini malah orang dari negara asing yang bisa kerja di sini.” Pemikiran seperti demikian merupakan pikiran yang cukup bodoh, yah memang tidak ada yang melarang orang untuk bodoh, namun alangkah lebih baik jika tidak ditunjukkan. Kita pakai satu contoh, suatu perusahaan punya 100 pekerja, dan karena krisis, mereka pangkas 25 orang jadi sisa 75 orang, pemangkasan tersebut untuk menjaga stabilnya keuangan, untuk mengurangi pengeluaran karena mereka kena dampak krisis, lalu datanglah 25 orang TKA, apakah mereka akan diterima? Tentu tidak, karena perusahaan malah akan menambah lagi beban perusahaan tersebut. Apakah perusahaan akan berpikir, “gimana kalau kita pangkas saja 25 orang lokal lagi, dan kita ganti dengan 25 orang TKA?” Tidak mungkin, karena mereka akan memikir, ‘memang seberapa kualitasnya TKA itu? jangan2 harus dididik lagi, mereka harus adaptasi lagi, biasa 100 orang bisa memproduksi 500 dalam sehari, sekarang cuma 75 orang, mereka bisa produksi 375 dalam sehari, jika saya pangkas lagi dan ganti 25 orang itu pakai TKA, seberapa yakin TKA itu bakal bisa kerjain lebih dari pegawai kita sekarang? Pasti untung2an, belon lagi kalo mereka ga ngerti bahasa kita, dan mereka ternyata cuma bisa nyelesein seorang 1 sehari, sudah kurang produksi’.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan buruh? Apakah buruh yang merupakan tenaga lokal akan tersaingi? Sangat mungkin, jika TKA yang datang pun sekelas buruh. Apakah para pekerja profesional akan tersaingi? Sangat mungkin lagi, apalagi TKA yang menjurus ke pekerjaan profesional, pasti di sana juga banyak sekali lulusan perguruan tinggi yang ingin mengadu nasib di sini. Kesimpulannya, berarti pemerintah jahat kan? Belum tentu, kenapa kita harus pesimis bahwa kita pasti kalah saing begitu? Ini merupakan ajang bergengsi bagi para masyarakat Indonesia yang ingin bekerja, kenapa? Kompetitor kini didatengin ke Indonesia, tanpa kita perlu berkompetisi di luar. Bagi anda yang optimis dan merasa berkualifikasi baik sih mungkin saja akan bersaing, tapi gimana jika anda kalah bersaing. Dua kata untuk anda, ‘Biar Rasa!’ terus apakah anda harus mengasihani diri dan mengurung diri dan menerima nasib sambil mengatakan itu adalah suratan takdir? Dan menyalahkan Allah karena menyurati seperti itu? Jika anda melakukan itu, memang anda ini orang yang mengenaskan sekali, bukan orang Indonesia jika seperti itu, pergi saja dari Indonesia, mungkin di bangsa lain, mental seperti itu sangat dibutuhkan.

Mental seperti apakah Indonesia seharusnya? Jawabannya yah mental Indonesia. Namun seperti apakah mental tersebut?

Inggris menang di Perang Dunia 2 bersama sekutu, dengan sedikit taktik bersama Amerika Serikat, sang Adidaya Jerman pun kalah, dan Inggris dengan mudah menduduki kembali wilayah-wilayah persemakmurannya, melihat itu. Namun apakah yang diingat mereka sekarang? “Gila! peralatan Jepang itu apalah dibanding kita, ditambah dengan Amerika Serikat. Semua wilayah kita dulu, berhasil berbalik ke kita. Ini cuma dudukin Indonesia yang ga punya Jenderal perang, ga ada negara, hanya bekas jajahan, 2 Jendral terbaik kita mati di Indonesia! Gila, orang macam apa itu, dengan peralatan seadanya tapi bisa menang.” Perjuangan dan tidak pernah berpikir akan kalah, itulah mental orang Indonesia, dalam lomba oke kita boleh kalah, tapi kalau perang, hanya ada 1 yaitu menang! Itulah mental orang Indonesia yang sudah mulai pudar.

Setelah kalahnya calonku, dan naiknya si kurus itu jadi Presiden dengan motto “Ayo Kerja” saya pertama berpikir itu pencitraan yang bagus, tapi kalau dilihat terus menerus dan saya renungkan, ternyata Presiden kita ini gila juga, yah kita harus kerja, kerja, kerja, urusan kita berhasil ato gagal, itu nanti, sekarang saatnya bekerja! Kembali ke persaingan dengan TKA itu, jika anda sudah optimis dan memiliki kompetensi yang bagus, segera bersaing dan menangkan! Jika anda kalah bersaing, bukan saatnya menangisi dan meratapi nasib, segera anda bekerja! bagaimana bekerjanya? Cari teman-teman anda yang menang bersaing, bina diri anda dan minta mereka ajari anda gimana mereka bisa lebih dari para TKA? Dengan anda sudah mulai belajar membina diri, anda juga sudah bekerja, binalah diri sampai anda benar-benar cukup dan segera terjun ke laga pertandingan, dan bersainglah dan menangkan.

Akhir kata, anda berhasil bersaing, selamat untuk anda dan bersyukurlah. Anda gagal bersaing, itu bukan saat untuk anda mencari teman yang gagal bersaing dan rame-rame menggugat ke pemerintah dan meminta laga persaingan ditutup, jangan jadi pengecut! Anda gagal, itu saat untuk anda mengevaluasi diri dan membina diri untuk berhasil, jika anda berpikir untuk tidak mau bersaing mencari pekerjaan, buatlah pekerjaan, berwiraswasta dan belajarlah bagaimana bisa menjadi bos yang benar, bukan bos yang baik. Berwiraswastalah yang berkualitas bukan berwiraswasta seadanya, belajarlah dari si Bos Bob Sadino, dimulai dari cari-cari kesempatan, keliling-keliling menjajahi dagangan, sampai akhirnya dia cuma berkeliling-keliling buat maen, dan keliling-keliling buat ngecek usahanya.

Posted in Mikir | Leave a comment

Tulus

Gambar hanya ilustrasi

Gambar hanya ilustrasi

Tulus merupakan satu kata yang sering didengar, tapi susah dilakukan. Bagiku tulus adalah kondisi dimana melakukan sesuatu namun tidak ada apa-apanya sehingga kita tidak kehilangan apa-apa. Perkataan tersebut terinspirasi dari satu tulisan di salah satu Vihara di Lembang.

Saya sendiri belajar tentang ketulusan dari seorang Suhu yaitu Hai Hai yang pernah menulis bahwa beragama merupakan pilihan atas kenyamanan seseorang untuk beriman. Banyak sekali kita temui bahwa masing-masing agama khususnya di Indonesia terus menerus mencari pelanggan dan ‘memaksa’ orang untuk masuk dalam agamanya, namun tindakan seperti itu juga pernah saya lakukan sebelumnya.

Kebanyakan agama mencari ‘pelanggan’nya masing-masing dengan iming-iming jika memeluknya, Tuhan akan memasukkan ke Surga. Namun tidak pernah kita berpikir, bagaimana jika ternyata setelah kita berhasil mendapatkan orang baru dari agama lain ke agama kita dengan istilah ‘membuatnya bertobat’ ternyata para pemeluk agama dari agama lamanya orang baru tersebutlah yang masuk surga dan malah kita yang masuk neraka? Toh sampai saat ini tidak ada yang bisa membuktikan bahwa pemeluk agama mana dengan ajaran yang mana yang benar-benar masuk surga. Pernahkah kita berpikir seperti itu? Pemikiran seperti itu pernah diungkapkan oleh Ko Hai Hai dan dari ungkapannya itu pun saya sepakat untuk tidak lagi mempromosikan orang-orang untuk masuk agamaku.

Salah satu pemikiran dari Ko Hai Hai yang membuat saya berpikir adalah dia mengatakan, jika ternyata dia masuk neraka karena agama yang dipeluknya, dia meminta kepada teman-temannya untuk tidak mengkhawatirkannya karena kan katanya neraka itu kekal, jadi lambat laun akan bisa menemukan cara untuk dapat menikmati hidup di sana. Pemikiran seperti itu sangat jarang karena jarang orang pernah berpikir tulus seperti itu.

Jika kita mulai dari agama kita masing-masing, seberapa tulus kita memeluk agama itu? Untuk apakah kita beragama tersebut? Pertanyaan selanjutnya, seberapa tulus kita menyembah Tuhan? MenjilatNya agar mendapatkan keselamatan setelah mati nanti? Melakukan segala hal dalam namaNya dengan anggapan itu akan menyenangkanNya? atau menjadi penjilat supaya dapat berkatNya? Atau menjadikannya pelaksana perintah dengan kedok sebagai Sang Maha Kuasa?

Pemikiran demikian sadar atau pun tidak merupakan pola pikir yang kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pernahkah bertanya, “Kemana engkau ya Allah? Aku sedang kesusahan?” Jika ditelusuri ke dalam hati paling dalam, sebenarnya kita ingin bilang, “Kemana Engkau ya Allah saat gw lagi butuh kq ga ada, padahal kan gw udah…..”. Yah memang banyak sekali saat ini khotbah-khotbah ‘marketing’ dimana jika kita melakukan sesuatu, maka Tuhan akan membalasnya berlipat kali ganda, ataupun ada yang menjanjikan bahwa Tuhan akan selalu membela dan lain sebagainya, dan saat ternyata itu semua tidak terjadi, yang muncul adalah rasa kecewa, sakit hati ke Tuhan, atopun malah merasa berdosa dan sebagainya.

Pertanyaannya mengapa kita ga ubah saja pola pikir kita menjadi, “Saya memuji Tuhan dan melakukan hukumNya memang karena saya tulus melakukannya, bodo amat waktu nanti saya susah dan ternyata Tuhan ga bantuin saya. Saya akan berusaha menolong diri saya.”

Saya sendiri telah beberapa kali memperhatikan tentang tulus ini. Ternyata tulus sangat berguna dalam hubungan cinta, khususnya bagi para cowo yang lagi ngejer cewe. Sadar ato tidak, banyak cowo yang mengejar perempuan dan berusaha sedemikian mungkin untuk mendapatkan sang cewe dengan tidak tulus. Banyak yang melakukan segalanya dan memberikan segalanya untuk mendapakan pujaannya namun dengan pemikiran, “Nih gw udah gini sama lu, jadi lu harus cinta sama gw, kalo lu ga cinta sama gw, dasar cw ga tau diri! Lu ga ngehargain pengorbanan gw?!” Yah pengorbanan, banyak yang bilang bahwa cinta itu penuh pengorbanan.

Bagi saya sendiri cinta itu ga butuh pengorbanan, kalau saya mau ke tempat cewe dengan menerjang hujan badaipun, bagiku itu bukan pengorbanan, lha kan cinta. Memang agak tidak seperti biasanya, saya rasa bertindak tulus itu sangat mengasyikan dan membuat hidup santai, karena saya melakukan apapun memang karena tidak ada apa-apa alias karena saya mau, jika ternyata saya tidak dapat timbal balik yah tidak apa-apa, karena saya tidak akan kehilangan apa-apa, lha wong saya tulus kok lakuinnya.

Saya sendiri sempat melihat teman di kampusku dulu yang mengejar seorang cewe namun dengan pemikiran cinta itu berkorban, ato supaya si cewe suka sama dia jadi dia harus apa, apa dan apa, toh ujung-ujungnya malah sekedar teman, ga tau sich sekarang gimana, mungkin kalo si cewe ga laku-laku, dan yang mau cuma dia yaah mungkin terpaksa juga. Entah bagaimana, saat kita melakukan segala hal tulus, si cewe itu tahu bahwa kita ini ga ada agenda tersembunyi alias modus.

Tulus melakukan sesuatu ke siapapun itu berarti kita melakukannya dengan tidak ada apa-apa, sehingga kalopun kita tidak dapat apa-apa dari mereka, kita tidak akan merasa kehilangan apa-apa, karena apa yang kita lakukan memang tulus.

Melakukan dengan tidak ada apa-apa maka anda tidak akan kehilangan apa-apa

Salam,

 

Lapik

 

Posted in Mikir, Pengalaman | Leave a comment